2020, Tahun “Katanya-Tetapi”

Oleh: Dessy Liestiyani
Juara 1 Lomba Esai 2020 dan Alumni Menulis Online

2020, Tahun “Katanya-Tetapi”

Saya rasa semua orang setuju, kalau 2020 adalah tahun yang paling memorable, paling patut dikenang sepanjang sejarah. Bagaimana tidak. Warga sedunia punya teman baru yang namanya Corona, dan sukses bikin dunia ini penuh warna. Hijau, kuning, oranye, merah, atau hitam.

Daripada menyebut 2020 sebagai Tahun Bencana, saya lebih suka menyematkan tahun 2020 ini sebagai Tahun “Katanya-Tetapi”. Alasannya, banyak klaim yang terlihat kontradiktif dengan fakta-faktanya.

Nggak percaya? Yuk kita mulai.

Tepat di awal tahun, katanya Corona sudah mendarat di Indonesia. Tetapi, kedatangannya masih dianggap hoax dan bahkan dijadikan materi “stand up” oleh pejabat negara yang mengatakan virus ini tidak masuk ke Indonesia karena sulitnya perijinan. Eksistensinya baru diakui dua bulan kemudian, saat pemerintah pertama kalinya mengumumkan dua kasus pasien Corona di Indonesia.

Memasuki triwulan pertama masa pandemi, katanya Corona sukses membuat bangkrut segala jenis usaha. Tetapi, beberapa teman saya justru bisa kaya raya berbisnis alat-alat prokes dengan harga yang fantastis.

Saya masih ingat betapa gigihnya usaha mencari alat thermo gun seperti yang disyaratkan pemerintah kota untuk usaha saya, perhotelan. Bukannya tidak ada barangnya, tapi di bulan April dan Mei saat itu, mencari thermo gun yang “dompet-friendly” itu sulit sekali. Katanya, thermo gun harganya 100 ribuan. Tetapi, saat itu thermo gun dibandrol dengan harga mulai dari 700 ribu sampai 5 juta rupiah! OMG!

Katanya, kita harus saling bantu semasa pandemi. Tetapi, “bisnis is bisnis”. Semakin tinggi permintaan, ya semakin tinggi pula harganya.

Tahun 2020 ini juga memperlihatkan fenomena yang unik pada bisnis makanan. Katanya, banyak restoran tutup akibat Corona. Beberapa restoran besar seperti Pizza Hut, KFC, Ta Wan, sampai Ichiban Sushi pun harus rela “turun ke jalan” menjemput pembeli. Tetapi, banyak orang yang justru baru memulai bisnis kulinernya saat pandemi.

Salah satu portal shopping online, Lazada, mencatat peningkatan penjualan produk-produk ‘Kitchen and Dining’ sebesar 28 persen, sejak diberlakukannya PSBB di Jakarta. Hal ini menunjukkan meningkatnya keinginan orang untuk memasak makanan sendiri, sambil berharap bisa mendapat tambahan cuan dari hobi barunya ini.

Kenyataan ini sebenarnya jadi terlihat kontradiktif dengan pernyataan Chief Public Policy and Government Relations Gojek, Shinto Nugroho, pada rapat dengan DPR bulan Mei lalu. Beliau melaporkan adanya penurunan pemesanan GoFood, bahkan sebelum PSBB diberlakukan.

Katanya, hal ini terjadi karena banyaknya mal dan pusat kuliner yang tutup. Tetapi, dengan dimulainya tren memasak di rumah sembari berjualan, bukankan platform digital ini harusnya punya lebih banyak mitra baru yang bisa menarik perhatian konsumennya?

Kemudian, setelah melihat gelombang PHK yang massal, pertumbuhan ekonomi yang negatif, dan melalui prediksi dari beragam ahli, pada bulan November akhirnya Indonesia resmi mengalami resesi ekonomi. Katanya, resesi ekonomi merupakan indikasi turunnya daya beli masyarakat secara umum. Tetapi, mengapa sepeda, ikan cupang, dan tanaman hias dengan harga jutaan bisa jadi rebutan?

Tren hobi “mahal” ini memang tidak bisa diprediksi sebelumnya. Produsen sepeda Kreuz asal Bandung sampai kebingungan karena daftar inden produknya sudah sampai tahun 2022. Atau harga seekor ikan cupang yang bisa mencapai 2 juta rupiah dan ternyata laris manis. Bahkan, seorang pria di Kediri rela menukar mobil Avanza miliknya dengan tanaman hias.

Lalu, dimana resesinya?

Di kota tempat tinggal saya saat ini, sebagian warga justru terlihat tidak peduli dengan Corona. Katanya, Corona itu tidak ada. Tetapi, ketika ada ambulance menjemput warga yang terindikasi positif, beliau dijauhi layaknya musuh masyarakat. Tidak ada pelanggan yang mau datang lagi ke kedainya. Bahkan, kerabatnya sendiri enggan melintas di depan rumahnya selama beberapa waktu. Jadi, sebenarnya percaya atau tidak sih?

Tahun ini memang terasa berbeda. Dibuka dengan bencana, diakhiri dengan duka. Ya, entah mengapa di bulan Desember ini saya mendengar banyak sekali berita kematian baik dari teman maupun kerabat. Setiap hari, saya sudah harus siap mendengar berita-berita yang mengejutkan.

Seperti halnya ketika beberapa hari lalu saya terkejut membaca berita mas Adam Suseno yang mencukur kumis tebalnya! Katanya, tongkrongan mas Adam itu galak. Tetapi kenapa sekarang, meminjam istilah mbak Inul, telihat seperti Cuplis?

Berita penutup tahun yang benar-benar menggemparkan.

Mau kepo dulu cek IG kami
@menulis.online

Mau ikut kelas kami?
http://bit.ly/pijarkata

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart