Apa yang Kelak Akan Kita Ceritakan Tentang 2020?

Oleh: Dyan Arfiana A. P.
Juara 3 Lomba Esai 2020 dan Alumni Menulis Online

Apa yang Kelak Akan Kita Ceritakan Tentang 2020?

Saya tergelitik. Ada semacam perasaaan ingin menyangkal. Tapi jika saya melakukannya, berarti saya menghianati pikiran saya sendiri. Maka, cara terbaik yang bisa saya lakukan adalah mengumpat, sembari diam-diam membenarkan meme yang beberapa waktu lalu saya temukan di media sosial. Meme itu berbunyi,  “Bolak-balik rebahan, tau-tau udah mau 2021 aja!”. Duh. Tersindir saya.

Rebahan dan tahun 2020 memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Pemberlakuan Work From Home (WFH) dan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), membuat rebahan menjadi suatu keniscayaan. Aktivitas rebahan bahkan disebut-sebut sebagai aksi bela negara terbaik yang bisa kita lakukan tahun ini. Dan siapa sangka, ‘hanya’ dengan bermodalkan rebahan saja, tahu-tahu waktu berlalu dengan sangat cepat.

Ya. Dalam hitungan hari, tahun akan segera berganti. 2020 akan menjadi coretan sejarah dalam kehidupan kita. Lantas, pada anak cucu kita kelak, apa yang akan kita ceritakan tentang 2020?

Sebelum menjawab, mari kita flash back sebentar. Kalian masih ingat tidak, bagaimana kita mengawali tahun 2020? Dengan berita banjir di Jakarta, Ngab! Bahkan, curah hujan yang mengguyur sejak malam tahun baru kala itu disebut sebagai curah hujan tertinggi, yaitu mencapai 377 milimeter.  Ibu kota negara pun lumpuh seketika. Laju perekonomian terhenti. 9 warga dikabarkan meninggal. Wah, ini kalau dibuat film, maka 2020adalah film thriller yang di detik pertamanya kita sudah disuguhi adegan bacok-bacokkan. Epic sekali, bukan?

Tak berselang lama, masih di awal tahun 2020, berita menyedihkan lain datang dari dunia internasional, yaitu kebakaran hutan di Australia. Dikabarkan, ada 27 orang tewas dan sekitar 1 miliar hewan mati, termasuk spesies endemik Australia : kanguru dan koala.  Kebakaran hutan tersebut memicu hawa panas hingga 40 derajat celcius. Bisa kalian bayangkan tidak betapa panas udara disana?

Tapi tentu saja, jika kita bicara soal panas, yang terjadi di dalam negeri sepanjang tahun 2020 juga tak kalah panas. Bedanya, kalau di Australia penyebabnya adalah kebakaran hutan, sedangkan di Endonesia pemicunya adalah kelakuan dari para pesohor negeri plus kebijakan-kebijakan pemerintah yang nggatheli.

Bayangkan, saat negara lain fokus untuk mengambil langkah antisipatif penyebaran virus corona, pemerintah kita justru menggelontorkan dana sebesar 72 Miliar, yang akan digunakan para influencer untuk mempromosikan sektor pariwisata yang lesu karena efek corona. Gila. 72 Miliar!! Uang segitu bisa buat ikut kelasnya Mas Iqbal sebanyak 252.632 kali!

Belum soal statement-statement wagu yang muncul di 2020. Virus corona itu seperti istri lah, mudik beda dengan pulang kampung lah, halah mbuh. Bikin mumet. Sama mumetnya seperti melihat kelakuan Pak Luhut yang selalu jadi solusi atas apapun masalah di Endonesia. Termasuk kelakuan staff khusus milenial presiden yang gitu, deh…

Bukan hanya itu. Soal Pilkada yang digelar di masa pandemi juga nggak kalah nggatheli. Sampai-sampai ada meme yang menyebut,  “Pil KB bisa menunda punya anak, tapi Pilkada tidak bisa ditunda demi anak”. Ini yang bikin meme siapa, sih? Kok sukanya bener. Mana kemudian terbukti lagi! Asem banget, ik!

Kalau begitu, apakah lantas hanya kisah-kisah suram yang akan kita wariskan pada anak cucu, ketika mereka bertanya tentang 2020?

Nyatanya, 2020 bisa jadi tahun bersejarah bagi sebagian orang. Di tahun ini, ada mimpi yang terwujud, ada doa yang terkabul dan ada hajat yang terpenuhi. Seperti yang dialami Resa Fajar Anggara, warga Sleman yang di PHK karena perusahaan tempatnya  bekerja terdampak corona. Saat ini, dia memiliki usaha kuliner Tahu Walik yang omsetnya bisa mencapai Rp 600 ribu per hari. Kalau saja dia bukan korban PHK, tentu pikiran untuk buka usaha tidak akan terlintas di benaknya. Tapi lihatlah dia sekarang. Corona (dengan campur tangan Tuhan, pastinya) membuat dia naik kelas dari yang semula karyawan menjadi bos.

Bukan hanya itu. Banyaknya subsidi yang digelontorkan pemerintah juga menjadi hal menggembirakan yang ada di tahun 2020. Saya, misalnya. Di tahun 2020 ini, saya menerima 3 bantuan. Bantuan kuota, Bantuan Subsidi Upah (BSU) dari BPJS Ketenagakerjaan dan bantuan sosial dari APBD. Harus diakui, bantuan tersebut sedikit banyak telah membantu stabilitas keuangan rumah tangga di masa pandemi seperti ini. Dan saya yakin, saya bukan satu-satunya orang yang berbahagia dengan keberadaan bantuan-bantuan tersebut.

Artinya apa?

Artinya, tahun 2020 itu tidak se-brengsek yang kita pikirkan. Jadi, jika kelak kita bercerita tentang 2020 pada anak cucu kita, jangan ceritakan bahwa 2020 itu serupa kerikil di dalam sepatu yang begitu mengganggu hingga ingin disingkirkan. Ceritakan saja bahwa 2020 itu serupa kentut : bau, bikin geger, tapi di sisi lain, dia adalah anugerah. Itu.

Mau kepo dulu cek IG kami
@menulis.online

Mau ikut kelas kami?
http://bit.ly/pijarkata

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart