Batik dan Simalakama Warisan Dunia

Pandu Wijaya
10 Besar Lomba Esai 2020 dan Alumni Menulis Online

Batik dan Simalakama Warisan Dunia

“Kalau mau sungai bersih, berarti pengrajin batik tak makan”

Demikian ucap seorang ahli kesehatan di kota Pekalongan. Pernyataan yang seolah menunjukan puncak kepasrahan sekaligus kekalahan.

Pengusaha batik di Pekalongan memang banyak, mulai dari produsen besar hingga kecil. Dan mereka melibatkan ratusan pengrajin kain batik rumahan. Tapi, ironisnya geliat ekonomi dari bisnis tekstil ini justru memberi dampak buruk bagi lingkungan. Sudah menjadi pemandangam sehari-hari air sungai di komplek kami berwarna-warni — biru, hijau, hingga hitam — akibat limbah pewarna kain batik. Dan itu pun terjadi di sungai-sungai dan saluran air dimana banyak terdapat pengrajin batik.

Ya mau bagaimana lagi, resikonya adalah urusan perut orang. Berapa ratus rumah tangga kehilangan pemasukan jika industri batik dihentikan. Anak-anak mereka pun tak bisa makan dan sekolah. Larangan membuang limbah ke sungai pun bukan solusi. Mereka mungkin akan membuat pembuangannya sendiri di tanah yang justru mencemari sumur-sumur warga sekitarnya. Intinya, segala konsep atau teori soal sebuah lingkungan yang ideal sering berbenturam dengan urusan perut orang.

Tapi tunggu sebentar! Benarkah ini hanya soal ekonomi para pencelup batik itu? Seketika itu saya teringat tumpukan baju saya di lemari, di sana ada beberapa kemeja batik. Dan itu semua tentu adalah ouput dari proses kain yang telah dicelup pewarna yang mungkin sisa limbahnya dibuang ke sungai. Baju batik istri dan anak saya pun demikian. Baju batik anda dan orang-orang lain juga mungkin sama.

Batik telah dikampanyekan sedemikian rupa dan menjadi budaya nasional, bahkan dia telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda dunia. Kita pun bangga sebangga-bangganya. Batik makin menyatu dalam banyak laku budaya sebagai busana formal. Kita pun berbondong-bondong membeli. Hal ini pun menciptakan demand dan produsen menyediakan. Tapi, lingkungan terabaikan. Artinya, kita semua mungkin turut berkontribusi mencemari sungai.

Dan sepertinya kita bisa melihat banyak hal seperti itu di sekitar. Kebanggaan atas budaya yang diakui dunia tak diikuti dengan tanggung jawab yang layak. Kita mungkin telah mengeluarkan milliaran  dana  untuk melestarikan bahkan menyediakan SDM untuk merawat dan mengelola . Tapi efek ekonomi yang mengikutinya sering di luar kendali.

Selain batik, ada contoh lain misal warisan dunia candi Borobudur.  Seperti sebuah tontonan, kita mungkin mengaguminya hanya karena kemegahan dan kecantikannya. Maka logika pelestarian yang dominan digunakan pun logika ekonomi, yaitu pengembangan dan pembangunan wisata, yang akhirnya berdampak pada tata ruang sekitar Borobodur. Dan mungkin tak banyak yang tahu,  UNESCO pernah menegur keras pemerintah akibat dari pengembangan wisata yang membahayakan kelestarian candi.

Tak hanya itu, awal tahun ini bahkan sempat heboh berita soal Borobudur yang menjadi “tempat sampah” permen karet para wisatawan. Padahal menurut keterangan dari Balai Konservasi Borobudur, sisa permen karet merupakan noda yang sangat sulit dibersihkan. Dan selain permen karet juga kerap ditemukan putung rokok dan coretan. Balai Konservasi Borobudur mencatat total ada sekitar 3.074 titik noda vandalisme yang tersebar di berbagai sudut candi.

Masalah senada juga terjadi pada Subak Bali. Setelah 7 tahun lebih menyandang status Warisan Budaya Takbenda, diyakini tak semua masyarakat memperoleh manfaat dari penetapan itu. Dan, tahun lalu sempat heboh informasi pembuatan area yang diduga sebagai helipad di area Subak Jatiluwih untuk memfasilitasi tamu wisatawan VVIP. Jika benar, pembuatan landasan itu pun dapat mengganggu keaslian persawahan itu. Akibatnya, tentu ada potensi dicabutnya status Subak sebagai warisan dunia oleh UNESCO.

Saya pun teringat soal situs peninggalan Majapahit. Hingga kini, masih belum ditemukan dimana lokasi dan tinggalan dari kraton Majapahit itu. Ada yang mengatakan situs-situs itu hilang akibat bencana alam, ada yang bilang ia dihancurkan saat diserang oleh kerajaan Demak, ada yang bilang memang kraton telah dipindahkan. Di sisi lain, ada teori lain yang jarang disebut orang yakni kraton Majapahit sengaja dipendam atau disembunyikan. Tujuannya justru agar tidak musnah. Meski kurang populer tapi pendapat ini cukup menarik.

Dan, seorang kawan yang gelisah berkata dengan logika yang sama ” Barangkali budaya kita tak usah ditetapkan, tak perlu dikenal dunia, sehingga tak perlu jadi industri dan komoditi asal ia tetap lestari.”

Pendapat yang masuk akal. Daripada hanya mengedepankan prestige dan kebanggaan atas status warisan dunia, tapi sering berbuah simalakama, lebih baik tak usah ditetapkan.

Tapi beberapa waktu lalu kita mendengar berita bahwa salah satu budaya kita, pantun, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda. Kalau boleh jujur tradisi pantun jarang sekali menjadi perhatian kita, kecuali bagi orang Riau dan Kepulauan Riau serta orang betawi sebagai palang pintu acara kawinan. Kita semua pun hanya mendapat pelajaran sedikit tentangnya saat sekolah. Maka penetapan pantun sebagai warian dunia bisa menyadarkan banyak orang, khususnya saya sendiri, tentang keberadaannya. Pantun tak hanya cocokologi rima, tapi sejatinya ia adalah seni sastra.

Pengakuan dunia sering kali tak hanya soal prestige dan bangga-banggaan, tapi juga membuat kita sendiri lebih aware. Di belantara rimba budaya yang kita miliki, kita sering tak menyadari satu-persatu. Ibarat orang kaya, mereka sering tak sadar isi detail dapurnya. Karenanya, sebuah penetapan dan pengakuan pun menjadi penting. Sebab tanpa pengakuan dunia bisa jadi sampai kapanpun kita tak peduli dengan noken, batik, subak, pantun dan banyak lainnya. Dan karena tak cukup mendapat perhatian, bisa jadi dampak negatif yang mengikutinya jauh lebih besar. 

Mau kepo dulu cek IG kami
@menulis.online

Mau ikut kelas kami?
http://bit.ly/pijarkata

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart