Dapatkah Memilih Takdir?

Oleh: Muh. Fajaruddin Atsnan
10 Besar Lomba Esai 2020 dan Alumni Menulis Online

Dapatkah Memilih Takdir?

Ada yang menarik dari dua status wa kawan saya. Status wa pertama dari kawan dosen, sedangkan yang kedua adalah kawan penjual batu akik dan semacamnya. Begini statusnya bu Dosen, “4 sisi hati: bahagia, sedih, takut, syukur. Semoga syukur menempati ruang hati yang paling besar”. Membaca status tersebut, spontan saya berkomentar, “Kenapa syukur Bu Dosen, kok bukan bahagia?”. “Kalau syukur kan pasti bahagia Pak, sedangkan bahagia belum tentu syukur”. Jawaban yang makjleb, seketika hati ini bilang oiyaya.

Syukur dan bahagia berada pada dimensi yang sama. Beda di lingkupnya saja. Syukur itu semestanya. Sedangkan bahagia adalah himpunan bagian (subset)nya. Bahagia menjadi salah satu bentuk syukur.

Syukur itu multitafsir. Dari lidah ngucap Alhamdulillah, sampai traktiran di warung, semua bentuk syukur. Bahagia terlihat senyum di bibir sambil bilang Alhamdulillah. Dan, sumringahnya wajah saat kawan-kawan kolega nyelametin. Selamat ya, Selamat ya, Sukses. Eh, nylametin atas capaian sesuatu atau sudah ditraktir yak? Wallahualam.

Lantas, berikut isi status wa kawan penjual batu akik. “Januari, Februari, Pandemi,…Desember”. Kembali jari ini gatel buat komen, “Bulan Maret sampe November kemane Bro?”, hehe.. “Cuma tiga bulan itu Bro, tokoku lumayan rame, yang mau liat-liat batu”. Sekali lagi jawaban yang makjleb. Seolah hanya waktu yang buat bahagia yang dianggep. Yang buat sedih dan takut seolah tak dianggep.

Sedih karena sepi. Pandemi menuntun orang untuk lebih banyak di rumah. Keluar rumah hanya untuk hal penting dan mendesak saja. Seperti nyetok bahan makanan seperti beras, telur, mie instan, sarden, dan perkakas mandi  seperti sabun, sampo, odol, Dan tentunya masker dan handsanitaser. Boro-boro mampir ke toko akik, mending ke pemandian air hangat, atau mana kek, yang dapat mengusir kebosanan.

Takut karena Corona. Pegang sesuatu, lupa cuci tangan, bisa kena. Semua bisa jadi parno gegara Corona ini. Namun, satu hal yang musti kita yakini sebagai warga beriman. Semua ini sudah takdir Tuhan, pencipta alam semesta. Kita hanya bisa menjalani. Tidak dapat memilih. Apalagi menolak. Kita hanya bisa bersyukur dengan tetap bahagia menjalaninya. Sembari mengumpulkan energi untuk melawan rasa sedih dan takut.

Takdir adalah ruang dan waktu dengan empat kemungkinan. Sama antara ruang dan waktu. sama ruang, berbeda waktu. Berbeda ruang tetapi sama waktu. Dan, berbeda antara ruang dan waktu. Takdirnya laki-laki adalah ganteng. Sedangkan takdirnya perempuan adalah cantik. Keduanya sudah takdir, tidak dapat dibalik-balik lagi.

Adakalanya di satu momen (waktu) yang sama, dua orang ditakdirkan berbeda. Orang pertama ditakdirkan memakai baju olahraga, sedang jogging, mengitari komplek masjid. Dan, yang satunya ditakdirkan pakai baju gamis, lagi sedang duduk, kaki diselonjorkan, mata terpejam, mulut komat-kamit, menyesuaikan ketikan tasbih yang dipegang.

Melihat takdir dua orang tersebut, muncullah pertanyaaan. Apakah keliru ketika orang yang sedang jogging memandang orang baju gamis, seraya dalam hati “mending olahraga, badan sehat, imun naik, covid kabur”. Begitupun yang baju gamis, dalam hati bilang:”mending bawa bedzikir, nyata amalan akhirat. Tak tahu kapan akhir hayat”. Biarkan itu urusan yang jogging dan yang berzikir.

Melihat kedua aktivitas orang tersebut sekilas takdir itu dipilih. Tapi bukan dipilih, tetapi memang seperti itu jalannya. Sepintas kedua aktivitas tersebut memang sama-sama baik. Baik dalam sudut pandang pribadi. Baik ketika bukan komparasi, tetapi akulturasi kedua aktivitas tersebut yang melahirkan aktivitas positif yang seimbang. Titik moderasi, Alangkah sehatnya tubuh jika kita luangkan waktu untuk berolahraga. Alangkah sehatnya jiwa jika kita isi dengan banyak mengingat Tuhan, mengisi ruang-ruang hampa dalam hati.

Covid-19 adalah takdir. Apakah bisa kita memilih takdir Covid gak ke Indonesia? Di saat semua negara terdampak. Tidak bisa. Covid mewabah ke seluruh dunia. Semua sektor kehidupan terdampak. Semua dari kita terdampak. Baik dampak baik maupun buruk. Meratapi nasib bisa jadi memperkeruh rasa sedih dan takut. Sebaliknya, bersyukur dengan euphoria berlebihan juga bukan pada tempatnya. Moderasi sikap dengan menjaga keempat sisi hati, pilihan utama. Ada tidaknya Covid, life must go on.

Dengan doa. Dengan usaha. Apakah itu cukup untuk memilih agar Covid-19 tidak menjadi primadona pemberitaan? Tidak bisa. Bahkan tak hanya jadi pusat pemberitaan, tetapi juga pusat pembicaraan semua lini kehidupan. Karena memang masanya Covid. Semua yang diomongin marganya Covid. Pendidikan ngomongin Covid. Kesehatan ngomongin Covid. Ekonomi pun ngomongin Covid. Ngenesnya lagi, obrolan di makan pagi dan makan malam keluarga pun Covid. Dominasi hebat Covid.

Kaleidoskop 2020 pasti temanya Covid. Agak sebel juga sebenarnya, lha wong ngomongin siapa yang jadi pemain terbaik dunia,  siapa yang juara liga Champions eropa, juara F1, juara moto GP, kok ada labelnya, jawara tanpa penonton, karena Covid. Aneh, tapi nyata.

Sekali lagi, kita memang tidak bisa memilih takdir agar Covid tidak hadir di dunia. Tapi, kita masih bisa bersyukur atas takdir tersebut. Selalu ada hikmah dibalik kejadian. Selalu ada maksud Tuhan ketika Dia berkehendak. Itu pun jika kita mau berpikir. Dapatkah memilih takdir?

NB:

Yang jelas, saya dapet balik ke Jogja tanpa surat sakti, tanpa macem-macem jenis test tetek bengek yang bikin takut. Kok bisa? Harusnya gak bisa. Bisa, ketika saya berinteraksi dengan seorang penulis, tinggal di Bantul. Ya betul itulah Mas Iqbal Aji Daryono. Itu saja takdir yang dapat saya pilih. Eh sebentar, bukan dipilih ding, tapi memang seperti itu jalannya. J Tabik.**

Mau kepo dulu cek IG kami
@menulis.online

Mau ikut kelas kami?
http://bit.ly/pijarkata

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart