Mungkin Tuhan Juga Ingin Liburan

Mungkin Tuhan Juga Ingin Liburan

Oleh: Gelar Riksa Abdillah
Juara 2 Lomba Esai 2020 Menulis Online

Jika saja kita tahu betapa rumitnya jadi Tuhan, mengatur segala hal yang ada di alam semesta, dan menetapkan hukum-hukum alam. Membagikan pahala dan mengganjar dosa, sungguh pekerjaan tersebut sangat melelahkan. Saya sempat berpikir apakah Tuhan tidak pernah ingin liburan? Saya yang kerja biasa-biasa saja, melihat kasur menganggur sering kali tidak tega, lah ini mengatur alam semesta.

Namun, setelah saya melewati tahun 2020, saya mulai berburuk sangka jangan-jangan Tuhan beneran sedang pergi liburan. Atau setidaknya beliau sedang bete alias badmood parah. Entah apa alasannya, saya tidak terlalu ingin tahu juga.

2020 seolah menjadi puncak ironi sekaligus komedi paling satir dalam salah satu babak peradaban manusia. Fenomena ini tidak hanya dialami oleh Indonesia yang memang sudah selalu berada dalam kedua hal itu sejak lama. Seluruh dunia juga mengalaminya, semua orang merasakannya.

Bayangkan saja, manusia yang mengaku sudah menaklukkan berbagai macam kesulitan dalam sejarah kini luluh lantak dan terombang-ambing oleh sebuah makhluk yang tak kasat mata. Seolah Tuhan menghadirkan Corona untuk menciptakan keseimbangan tanpa perlu terlalu banyak campur tangan.

Hampir setahun sampai manusia bisa menemukan obatnya. Namun, manusia tetaplah manusia, bahkan dalam kondisi segenting ini pun masih ada yang tetap memikirkan kesejahteraan perutnya yang sudah lebih dahulu kenyang. Mungkin inilah salah satu alasan Tuhan ingin pergi liburan.

Menurut mas Yuval Noah Harari yang terkenal karena buku ‘Sapiens” itu, manusia insya Allah masih akan tetap hidup dan belum akan punah. Sebagian besar dari kita masih akan tetap bertahan, hanya saja cara manusia hidup akan sedikit berubah juga kondisi sosial dan ekonominya. Sayangnya, bagi saya hal ini semakin menambah yakin bahwa 2020 adalah tahun spesial.

Merujuk pada perkataan mas Harari terseb

ut, bisa dikatakan, tahun ini adalah tahun yang menandai perubahan kehidupan manusia secara global.

Hal lain yang menandakan perubahan tersebut adalah dipanggilnya orang-orang kesayangan masyarakat di tahun ini menghadap Sang Pencipta. Bukan satu atau dua, tapi jumlahnya nyaris cukup untuk membentuk dua tim sepak bola.

Dari tanah air saja, sudah ada banyak nama yang menghadap-Nya sepanjang tahun 2020. Penyanyi dengan suara lembut menggetarkan jiwa, kakak Glenn Fredly meninggalkan kita di tahun ini. Juga sang Godfather of The Broken Heart, Didi Kempot. Karya mereka abadi.

Dari kalangan intelektual ada Pak Ajip Rosidi dan Gus Sholah, mereka meninggal dunia pada tahun ini juga. Sungguh membawa kesedihan bagi kita semua. Seolah cahaya-cahaya pemikiran Indonesia perlahan meredup. Indonesia juga kehilangan legenda sepak bola Ricky Yacobi dan Dalang kenamaan Ki Seno Nugroho.

Dari kancah internasional, dunia tidak kalah berduka. Salah satu legenda hidup yang sudah seperti Dewa, Diego Maradona tutup usia. Pada awal tahun, Kobe Bryant telah meninggal lebih dahulu lewat kecelakaan yang cukup tragis. Masih banyak nama-nama pesohor atau pun orang hebat yang juga meninggalkan kita di tahun ini. Al Fatihah untuk mereka semua, semoga damai menghadap-Nya.

Dari semua duka dan nestapa yang terjadi di 2020, terbersit di dalam perasaan saya, mungkin Tuhan tidak liburan. Hanya saja Tuhan sedang melakukan seleksi. Semacam uji daya ketahanan terhadap segala mode keadaan.

Manusia akan menampakkan keaslian dirinya di tengah kesulitan. Kita diibaratkan seperti sekelompok orang yang jatuh ke dalam liang yang cukup dalam. Di dalamnya setiap orang merespon dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang menangis di pojokan, ada yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri, ada yang menyalahkan manusia lain. Yang terbaik adalah mereka yang saling membantu, menurunkan ego agar sama-sama bisa keluar dari liang tersebut.

Namun, yang paling buruk adalah mereka yang mencuri dompet dan persediaan makanan orang-orang yang ada di dalam liang. Indonesia menandai akhir 2020 dengan parade korupsi dan tanpa tahu malu mengumbar keinginan berkuasa dengan tetap menggelar pilkada di tengah pandemi. Saya hanya berharap, 2020 memang merupakan penggugur dosa bagi semua orang termasuk warga Indonesia khususnya.

Yang Bersemi di 2020

Meski begitu, tidak semua hal layak untuk disedihi di 2020, beberapa layak untuk disyukuri dan bahkan dijogeti. Meski keadaan memburuk dengan PHK di sana-sini, namun justru hal ini malah menumbuhkan geliat usaha baru. Dilansir dari Tempo, sentra-sentra UMKM menggeliat di pertengahan tahun 2020 dan kredit usaha juga semakin lancar tersalurkan. Usaha-usaha baru ini sebagian besar muncul karena keterpaksaan, namun dengan begitu, ekonomi kerakyatan justru berkembang, usaha-usaha dari rumah bermunculan. Hal ini cenderung positif mengingat jumlah pengangguran yang meningkat di awal pandemi.

Geliat usaha ini juga dibarengi dengan perkembangan teknologi yang dipaksa untuk berevolusi lebih cepat. Artinya, industri-industri rumahan mulai menggunakan internet untuk mengembangkan bisnis mereka. Meski daya beli masyarakat menurun, tapi solidaritas antar masyarakat dengan saling membeli dagangan justru meningkat.

Sepertinya semua orang sadar, bahwa di Indonesia, kebanyakan kita tidak boleh terlalu mengandalkan pihak berwenang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Pada akhirnya, 2020 mungkin tampak seperti tragedi, bahkan horror. Tidak ada jaminan juga 2021 akan menjadi romantis. Meski begitu, tidak ada yang perlu dipersalahkan, karena pada dasarnya kita hidup untuk melakoni. Setiap generasi manusia punya perannya sendiri-sendiri di rentang peradaban masing-masing. Saya perlu meralat apa yang saya tuliskan di atas, Tuhan tidak berlibur, Ia sedang menulis babak baru, dan para pemerannya sedang diseleksi.

Mau kepo dulu cek IG kami
@menulis.online

Mau ikut kelas kami?
http://bit.ly/pijarkata

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart