Tips Biar Tidak Kebanjiran (Lagi)

Oleh: Ahmad Nashrullah
10 Besar Lomba Esai 2020 dan Alumni Menulis Online

Tips Biar Tidak Kebanjiran (Lagi)

Untuk pertama kalinya sejak menjadi orang tua, saya mendapat undangan pembagian rapor untuk anak pertama saya. Ada dua rapor: sekolah TK, dan kursus berenang. Meski nilainya tidak outstanding amat, anak saya berhasil menuju fase berikutnya. Tetap sesuatu yang patut disyukuri.

Jujurnya, saya tidak tahu apakah anak saya itu benar-benar mengambil pelajaran dari kedua aktivitas tersebut. Semuanya tampak biasa-biasa saja. Ya paling ada lah satu-tiga hal yang kelihatan. Sebagai contoh, dia tiba-tiba menyebut kosa kata baru, atau menyanyikan lagu baru.  Soal kursus berenang juga begitu, perkembangannya tampak tipis-tipis saja. Dengan rentang tatap muka seminggu sekali dalam tiga bulan, sampai sekarang ya begitu-begitu saja. Paling saya menghibur diri dengan mengatakan bahwa paling tidak putri saya itu sudah terbiasa dengan kolam renang, untuk tidak mengatakan bawah kursusnya itu sia-sia belaka.

Walhasil, meski semuanya terlihat biasa, toh ia melewatinya. Untuk kelas TK-nya, ia naik dari TK A menuju TK B. Sedangkan untuk kursus berenangnya, ia beranjak dari kelas ‘Mini 3’ ke ‘Mini 4’. Semua seakan ia lalui begitu mudah, meski sebenarnya tidak mudah-mudah juga. Karena, misalnya, ia harus disiplin dan komitmen untuk datang dan hadir pada setiap sesinya. Dan itu menjadi tantangan tersendiri bagi anak berusia empat tahun. ‘Ala kulli haal, sekali lagi,ia berhasil melaluinya. Proses semacam ini akan terus dia hadapi sepanjang hidup.

Ya, kita terlalu sering berhadapan dengan hal-hal sulit, dan tidak sesuai dengan hasrat dan keinginan (entah itu musibah, cobaan, dan sebagainya). Setelahnya, tak jarang pula kita melewatinya baik dengan mudah ataupun berdarah-darah.

Saya jadi teringat satu kredo Perancis “L’Histoire se Répète ‘’, sejarah yang berulang. Tak satu pun peristiwa yang terjadi di belahan dunia ini melainkan ada presedennya. Setiap kejadian selalu saja ada tarikannya ke masa lalu. Meski ia tak persis sama dalam hal-hal detail, namun pola umumnya tetap saja nyambung.

Lucunya, kita cukup sering menghadapi peristiwa yang sama, atau mendekati sama, secara berkala, lalu kita juga melewatinya dengan cara yang hampir sama pula. 

***

Maksud saya begini. Ambillah satu contoh peristiwa yang terjadi di negeri plus enam dua ini di tahun 2020: banjir Jakarta, misalnya. Berapa kali Jakarta mengalaminya? Bukankah sudah sering terjadi sejak zaman Jan Pieterson Coen? Pemerintah kolonial Belanda waktu itu tentu saja sudah melakukan kajian agar banjir di Batavia bisa diantisipasi. Apalagi Belanda ini memang dikenal dengan ilmu sistem drainase-nya. Bagaimana tidak, lihatlah Amsterdam, sebuah kota yang berada di ketinggian 3.6 meter di bawah permukaan laut, bisa tetap eksis sampai sekarang. Tidak tenggelam. Memang pernah juga sih Amsterdam kebanjiran besar, tapi sekali-dua kali lah. Tidak tahunan seperti Jekardah.

Nah masalahnya. Kenapa Jakarta serasa diam di tempat soal banjir ini? Tidak ada gebrakan yang radikal. Entah berapa banyak komentar dan tulisan yang termuat di media cetak maupun daring mengenai banjir Jakarta yang menahun. Mulai dari yang misuh-misuh berserta sumpah serapahnya, sampai yang menghadirkan studi serius dengan mapping penyebab banjir dan solusinya. Tapi ujungnya ya begitu-begitu saja, banjir lagi-banjir lagi. So pasti setiap pamong Jakarta lintas generasi menepisnya dengan menunjukkan angka-angka yang mengindikasikan trend positif.

Tanpa bermaksud mengulang-ulang pembahasan yang sudah-sudah, jujur kali ini saya juga bertanya-tanya “mengapa ini yang terjadi?”, seperti kata Tere.

Jawabannya tentu bisa dari beragam perspektif, angle, disiplin, dan sebagainya. Tapi saya mencoba menganalisis (ahsiaap!) dari yang sederhana saja dulu: dari apa yang ada dalam kendali dan kemauan kita.

Kita bisa saja mengutuk buruknya sistem drainase di lingkungan sekitar, letak geografis, dan curah hujan yang tinggi. Cuma ya mau bagaimana dan diapakan? Soal drainase yang buruk, katakanlah, bisa menjadi salah satu penyebab banjir. Tapi sebagai seorang kepala rumah tangga biasa, bisa apa? Paling-paling ya menyampaikan aspirasi ke RT, yang belum tentu dilanjutkan ke RW, Lurah, dan seterusnya. 

Begitu pula dengan posisi geografis dan curah hujan. Okelah bisa diakali. Ada upaya rekayasa sedemikan rupa agar teratasi. Tapi lagi-lagi, itu juga butuh investasi yang serius yang entah bagaimana mewujudkannya. Makanya, biar lebih realistis dan praktis, dan supaya tidak dibilang hanya berwacana, kita perlu mencari jawaban simpel yang solusinya ada di tangan kita sebagai individu.

Tawaran saya, penyebab banjir adalah tumpukan sampah di selokan dan kali-kali kita. Solusinya hanya satu: jangan buang sampah sembarangan. Tempatnya di mana? Ya tempat sampah yang sudah disediakan. Langkah ini akan jitu jika sistem pengelolaan sampah di lingkungan berjalan dengan baik. Ia bisa dikatakan baik kalau berhilir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Ini saya tidak sedang bicara sistem daur ulang, segregasi jenis sampah, dan lain-lain loh ya. Kalau itu bisa masuk bab yang lain lagi. Ini murni perkara membuang sampah pada tempatnya saja dulu.

Apa ide saya bermuatan kebaruan? Tentu tidak. Karena ya memang anjuran, saran, dan aturan yang bernada sama sudah jamak ditemukan.

Apa anjuran ini sudah sampai ke masyarakat dengan baik ? Common sense saya sih sudah ya. Buang sampah pada tempatnya kan informasi dasar sekali. Orang tidak perlu ikut webinar ke mana-mana untuk tahu itu. Di setiap sudut kota dan gang mudah sekali dijumpai.

Lantas, kenapa masih marak ditemukan tumpukan sampah di tepian sungai dan selepas acara kerumunan, contohnya? Common sense saya (lagi) ini murni bagian dari kemalasan dan keegoisan kita. Karena tak ada lagi teori yang bisa menjelaskan selain dua hal tadi.

Bagaimana kita menjelaskan mengapa penumpang Mercy membuang sampah botol plastik di pinggir jalan? Bagaimana kita menjelaskan mengapa seorang pejalan kaki dengan mudahnya melempar bungkus sisa makanannya ke kali? Jawaban spekulatifnya ya karena mereka malas dan egois saja. Mereka enggan untuk menyimpan sampahnya sejenak di mobilnya, di tasnya, di kantongnya, sampai ketemu tempat sampah dan membuangnya di sana.

Jadi, apa yang perlu kita lakukan? Ya terapkan 3M-nya Aa Gym sajalah: mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai saat ini.

3M ala Aa Gym ini sudah merupakan langkah yang paling sederhana, paling cepat, dan paling feasible. Jika tidak, saya khawatir kita akan selalu menyapa banjir tahunan dan melewatinya begitu saja. Tanpa ada pelajaran yang berarti. Tak terkecuali di tahun 2021 nanti.

Mau kepo dulu cek IG kami
@menulis.online

Mau ikut kelas kami?
http://bit.ly/pijarkata

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart