Tak Semua Yakin dengan Vaksin

Oleh: Sandry Windiharto
10 Besar Lomba Menulis Esai 2020 dan Alumni Menulis Online

“Nggak usah ikut vaksin Bu! Nanti malah ngerusak imun. Mending kena sekalian biar kebal,” begitu pesan yang diterima salah satu kerabat lewat pesan singkat di Whatsapp. Sontak saya dibuat kaget dengan pernyataan ini.

Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan pendataan yang dilakukan di daerah tempat tinggal kerabat kami. Kabarnya, pendataan itu untuk keperluan vaksinasi Covid-19. Pernyataan yang merupakan kesimpulan suatu videoyang katanya penjelasan dari seorang ahli bahwa vaksinasi ini justru akan menimbulkan dampak negatif.

Singkat cerita, informasi yang beredar adalah bahwa vaksin yang akan diberikan kepada masyarakat nanti berasal dari virus Covid-19 yang muncul di awal pandemi. Sementara, virus yang telah menyebar saat ini kemungkinan telah mengalami mutasi sehingga memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu meskipun seseorang sudah divaksin maka tetap akan mungkin terinfeksi dan justru dampaknya akan lebih berat. Penyebarannya pun akan lebih merajalela.

Kabar yang beredar ini rupanya telah membuat keresahan keluarga kerabat kami. Resah dan bingung karena merasa tidak ada jaminan bahwa vaksin ini memang aman dan perlu dilakukan.

***

Awal Desember ini berseliweran di timeline saya berita mengenai kedatangan Vaksin Sinovac dari China. Gelombang pertama Vaksin Covid-19 yang paling dinanti seluruh masyarakat sejak pandemi Covid-19 melanda negeri ini akhirnya tiba di Indonesia.

Ya. Tak hanya masyarakat Indonesia. Sejak Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi global, seluruh warga dunia terus memantau dan berharap agar vaksin segera ditemukan. Hal ini juga karena berbagai upaya pencegahan penyebaran ternyata tak sepenuhnya berjalan efektif. Negara-negara yang dianggap sudah bisa mengendalikan wabah pun nyatanya masih menghadapi ancaman gelombang kedua dan ketiga. Vaksin akhirnya diharapkan sebagai dewa penyelamat dunia dari krisis multi dimensi yang disebabkan oleh wabah Corona.

Entah kapan vaksinasi akan mulai dilakukan, namun datangnya vaksin di tanah air ini akan memberi secercah harapan bagi seluruh masyarakat bahwa pandemi di republik ini akan segera berakhir.

Tapi persepsi saya bahwa seluruh manusia di muka bumi ini menanti untuk divaksin ternyata tak sepenuhnya benar. Pesan singkat yang diperoleh kerabat tadi membuat saya mulai berpikir bahwa sesungguhnya ada pihak-pihak yang tak yakin dengan vaksin. Keraguan yang membawa pada kesimpulan bahwa vaksinasi tersebut tidak perlu dilakukan.

***

Saya tak ingin masuk pada diskusi spesifik mengenai vaksin secara epidemiologi. Saya hanya menangkap ada keresahan yang mulai berkembang di masyarakat mengenai perlu tidaknya mengikuti program vaksin ini. Jika memang vaksinasi adalah jalan yang tepat untuk memperoleh kekebalan populasi untuk mengakhiri pandemi, maka keresahan dan keraguan masyarakat perlu segera dicarikan solusinya.

Satu hal yang menurut saya menjadi titik lemah dalam kasus yang saya uraikan di awal tadi adalah tidak adanya pemahaman yang dimiliki masyarakat mengenai apa dan bagaimana pentingnya vaksinasi untuk mengatasi pandemi.

Pemahaman ini penting karena masyarakat dalam konteks individu adalah titik awal sekaligus yang paling krusial dari upaya pemerintah mengakhiri pandemi. Masyarakat akan secara langsung menjadi ujung tombak untuk mencapai kekebalan populasi karena pada tubuh masing-masing individu inilah vaksin disuntikkan.

Coba bayangkan. Jika ada satu saja orang yang menolak untuk divaksin karena memiliki pemahaman seperti kasus tadi. Yang bersangkutan kemudian menyebarkan pemahaman dan latar belakangnya atas penolakan vaksinasi tersebut kepada lingkungannya. Lalu dengan kecepetan arus informasi yang menyebar di masyarakat, keyakinan yang keliru dari orang itu akan dengan mudah mempengaruhi orang lain.

Jika banyak masyarakat yang menolak vaksin maka akan mengancam efektivitas program vaksinasi pemerintah. Sebagaimana disampaikan oleh Prof Cissy Kartasasmita, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran dan Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksinasi akan efektif mencegah penyakit ketika jumlah vaksinasi mencapai 70 persen dari populasi.

Situasi ini mendesak pemerintah harus pro aktif dalam memberikan pemahaman masyarakat dan perlu menjadi prioritas sebelum rangkaian proses vaksinasi dimulai. Tahapan vaksinasi yang dimulai sebelum masyarakat benar-benar paham akan menimbulkan keraguan dan keresahan masyarakat. Bukan tak mungkin kasus serupa akan muncul lagi di lain tempat, lain waktu dan bisa jadi dalam skala yang lebih besar.

Karena itu, seperti halnya sosialisasi mengenai urgensi penerapan protokol kesehatan, pemerintah juga perlu menjadikan edukasi mengenai vaksin sebagai sesuatu yang wajib diketahui oleh masyarakat.

Potensi tantangan yang mungkin dihadapi dalam edukasi vaksin ini antara lain adanya berita hoaks dan mitos mengenai vaksin. Sebagai antisipasi maka pemerintah perlu memberikan edukasi dengan informasi yang akurat dan disampaikan dengan cara yang tepat.

Penyampaian informasi dengan cara yang tepat ditempuh melalui narasi yang sesuai. Pesan mengapa vaksin itu penting harus tersampaikan ke seluruh masyarakat dengan latar belakang pendidikan dan kultur yang beragam. Selain mengenai bahasa, pendekatan yang digunakan terhadap masyarakat juga memegang peranan penting.

Dalam pandangan saya, pendekatan pada masyarakat dapat berangkat dari perspektif mikro. Dengan logika sederhana namun mudah diterima masyarakat penjelasan pada perspektif ini adalah mengenai ancaman terhadap tubuh individu jika tidak mendapatkan vaksin. Setelah itu secara bertahap menuju perspektif yang lebih makro yakni keengganan divaksin akan membahayakan lingkungan dan keluarga.

Mengutip penjelasan Juru Bicara Satgas Covid-19, “Jika masyarakat melakukan vaksinasi, tidak saja memberikan perlindungan bagi orang yang diimunisasi, tetap juga bagi lingkungannya, terutama karena ini membantu mengurangi penyebaran penyakit. Semakin banyak orang divaksinasi maka penyebaran penyakitnya akan semakin sedikit.”

Untuk mencapai efektivitas, edukasi juga perlu didukung peran tokoh masyarakat maupun pemuka agama. Tokoh pada level nasional hingga scope terkecil seperti level RT wajib dilibatkan. Penggunaan media juga tak kalah penting. Dengan masifnya sosialisasi melalui media sosial, persebaran informasi yang tak benar dapat ditangkal.

Beberapa kali saya sebenarnya sudah menemui baliho sosialisasi vaksin yang menggambarkan orang bermasker dengan deskripsi “Tak Kenal Maka Tak Kebal. Vaksin melatih tubuh untuk kenal, lawan, dan kebal dari penyebab penyakit, seperti virus atau bakteri.”

Sebagai suatu tagline, narasi ini dalam pandangan saya sudah cukup menarik meskipun tidak spesifik menyebut vaksin Covid-19. Tinggal bagaimana kemudian penjelasan lebih detil dapat disampaikan melalui instrumen lainnya untuk memberikan pemahaman lebih lengkap kepada masyarakat.

***

Vaksinasi Covid-19 akan dilakukan secara bertahap mulai Januari 2021. Artinya, tidak banyak waktu yang tersedua untuk menyatukan interpretasi masyarakat. Namun demikian tidak ada kata terlambat. Sosialisasi masih bisa digenjot lagi secara komprehensif dan ekstensif.

Semoga dengan semakin luas informasi yang akurat dan tepat mengenai vaksin akan menangkal mitos dan berita hoaks yang mengancam keberhasilan penanganan pandemi.

Mau kepo duli cek IG kami?
@menulis.online

Mau ikut kelas kami?
http://bit.ly/pijarkata

Leave a Reply

Close Menu
×
×

Cart